Wednesday, October 20, 2021

HIPSI: Pemerintah Perlu Fasilitasi Eksportir Sarang Walet Skala UMKM

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Pedagangan (Kemendag) diharapkan bisa memfasilitasi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang berorientasi ekspor. Pasalnya, pelaku usaha kecil kesulitan masuk pasar global karena terbentur impor protokol.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) Himpunan Pengusaha Swadiri Indonesia (HIPSI) H Firmandez, Jumat, 28 Mei 2021. Menurutnya, impor prokolol hanya menguntungkan pengusaha besar, karena hanya mampu dipenuhi oleh pengusaha besar saja karena berbiaya mahal.

“Di sinilah perlu kehadiran pemerintah untuk mencari solusinya, bagaimana agar para pelaku UMKM yang berorientasi ekspor juga bisa masuk ke pasar global, tanpa terhalang oleh perjanjian impor protokol,” ujarnya.

Mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh ini mencontohkan, baru-baru ini Asosiasi Peternak Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI) mengeluhkan sulitnya UMKM untuk menembus pasar ekspor China karena terhalang oleh perjanjian impor protokol.

“Padahal kita tahu China itu importir dan konsumen terbesar sarang walet di dunia, tapi pengusaha sarang walet Indonesia, terutama yang skala UMKMl masih susah untuk ekspor langsung sarang walet ke China,” ungkapnya.

H Firmandez menambahkan, jika bisa lansung ekspor ke China, maka keuntungan yang diperoleh oleh pelaku usaha sarang walet bisa lebih besar, untuk itu perlu dicari solusi agar pelaku usaha kecil sarang walet juga bisa masuk ke pasar negeri tirai bambu tersebut.

“Lagi-lagi pemerintah perlu hadir si sini, perlu dicarikan solusi agar pelaku usaha sarang walet skala UMKM bisa bangkit dan memanfaatkan potensi pasar yang besar, apakah nanti impor protokol itu direvisi atau ada cara lain yang lebih bijak. Pemerintah perlu terus mendorong berkembangnya usaha sarang walet dalam negeri,” tambahnya.

Selain itu kata H Firmandez, keberpihakan kepada pelaku usaha sarang walet skala UMKM sangat penting dan bisa dilakukan sejalan dengan upaya Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam memaksimalkan ekspor komoditas sarang burung walet, yang disebutnya sebagai harta karun baru Indonesia dengan nilai mencapai ratusan triliun rupiah.

Wakil Ketua DPP Asosiasi Perdagangan Barang, Distributor, Keagenan dan Industri Indonesia (Ardindo) ini menambahkan, sarang walet merupakan komoditas yang sangat menjanjikan dengan harga mencapai Rp 25 juta per kilogram.

Nilai impor sarang burung walet China dari Indonesia pada periode Januari–November 2020 saja mencapai 350,93 juta dolar AS, meningkat sebesar 88,6 persen dari periode yang sama tahun 2019 yang mencapai 186,07 juta dolar AS.[]

TERBARU

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here