Wednesday, December 1, 2021

Katalis Merah Putih Harus Mampu Realisasi Target EBT

WOINEWS.ID, JAKARTA – Pembangunan pabrik Katalis Merah Putih disambut baik oleh Himpunan Pengusaha Swadiri Indonesia (HIPSI). Pabrik yang akan mengolah sawit menjadi solar, bensin hingga avtur itu diharapkan akan mampu merealisasi target Kebijakan Energi Nasional (KEN).

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) HIPSI, H Firmandez, Senin, 1 Februari 2021 menjelaskan, pemerintah melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 tahun 2014 menargetkan pada tahun 2025 penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) atau renewable energy sebesar 23 persen.

“Kita sambut baik program pemerintah membangun pabrik Katalis Merah Putih. Kita bergarap bisa memenuhi target pemerintah soal penggunaan EBT, karena selama ini realisasi penggunaan EBT masih jauh dari target yang ditetapkan pemerintah,” ujar mantan anggota Komisi VII DPR RI yang membidangi urusan energi, lingkungna hidup, riset dan teknologi.

H Firmandez menambahkan, jika pembangunan pabrik Katalis Merah Putih berhasil mengolah sawit menjadi biodiesel, maka akan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. “Jadi, ada dua hal di sini, target KEN dan energi ramah lingkungan,” ujarnya.

Wakil Ketua DPP Asosiasi Perdagangan Barang, Distributor, Keagenan dan Industri Indonesia (Ardindo) ini mengharapkan, dalam prosesnya nanti, Katalis Merah Putih perlu melibatkan petani sawit, tidak hanya mengandalkan perusahaan besar, agar petani sawit dalam negeri juga memperoleh dampaknya.

“Jadi ini sejalan dengan program pemerintah yang mengucurkan anggaran sebesar Rp 5,57 triliun melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk peremajaan sawit rakyat, serta program pemerintah tentang mandatori biodiesel 30 persen pada tahun 2021,” jelas H Firmandez.

Selain itu, mantan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh ini menjelaskan, bukan hanya dari kelapa sawit, banyak sumber dan potensi lain EBT di Indonesia yang belum digarap maksimal, di antaranya adalah biofuel bahan bakar hayati dari bahan-bahan organik, biomasa energi terbarukan dari bahan bakar kayu dan limbah, energi panas bumi, air dan angin, serta energi dari gelombang laut dan lain sebagainya.

Selama ini pengelolaan EBT di Indonesia masih sangat minim. Padahal potensinya sangat melimpah. Pemerintah harus mendorong perkembangannya melalu berbagai regulasi yang pro investasi, serta melakukan penyederhanaan regulasi yang memberi kemudahan bagi masuknya investasi di bidang energi.

“EBT itu jawaban terhadap kebutuhan energi ramah lingkungan pada masa yang akan datang, untuk menekan polusi udara sebagai dampak dari penggunaan energi fosil selama ini. Penggunaan EBT penting untuk menjawab persoalan climate change, kita perlu mengurangi pemakain energi kotor yang berdampak pada polusi udara dan kerusakan lingkungan,” pungkas H Firmandez.[]

TERBARU

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here