Monday, October 18, 2021

Perlu Konsolidasi Bentuk Holding Industri Pertahanan

JAKARTA – Rencana Kementerian BUMN membentuk holding industri pertahanan masih perlu konsolidasi antar lima BUMN, yakni PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT PAL Indonesia, PT Dahana, dan PT Len Industri yang ditunjuk sebagai induk perusahaan.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI Achmad Baidowi saat meninjau fasilitas bengkel kapal selam PT PAL Indonesia (Persero), di Surabaya, Jawa Timur. Menurutnya, PT PAL sebagai perusahaan pemerintah yang ditugaskan bergerak di industri pertahanan itu, sudah banyak mengambil langkah untuk memperkuat industri maritim bangsa. Untuk itu, dengan semakin terkonsolidasinya perusahaan-perusahaan BUMN yang bergerak di bidang alutsista atau alpalhankam diharap dapat meningkatkan sektor pertahanan baik darat, laut, maupun udara.

Terkait kapal selam, Awiek mengungkap bahwa kondisi alutsista sektor maritim dalam negeri masih jauh dari kata ideal. Merujuk pada tragedi tenggelamnya KRI Nanggala 402, pemerintah perlu mengembalikan trust bahwa pemeliharaan kapal-kapal selam yang ada bisa berjalan optimal. Terlebih KRI Cakra 401, yang saat ini bersandar pada fasilitas PT PAL di Surabaya, berusia hampir sama dengan KRI Nanggala 402. Untuk itu, pemerintah perlu terus memastikan overhaul dapat terus dilakukan dan disiapkan dari sisi anggarannya.

“Overhaul sebuah kapal selam itu tidak murah, kalau tidak salah anggarannya sekitar 1 hingga 2 triliun, kalau beli baru juga lebih mahal lagi. Perlu ada perbaikan-perbaikan jangan sampai kapal lainnya yang lebih tua, seperti Cakra (KRI Cakra 401), tidak bernasib sama dengan Nanggala. Itu harus jadi pembuktian. Saya harap tragedi sebelumnya jadi yang terakhir. Alutsista kita harus diperkuat, jika tetap ingin menjadi negara berdaulat maka harus didukung oleh alutsista yang kuat juga,” tegasnya.[]

TERBARU

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here