Thursday, May 19, 2022

Peutuha Pangkai dalam Sistem Kredit Kolonial di Aceh

Para Uleebalang pro Belanda di Aceh disediakan modal dari bank untuk bantuan kredit rakyat tanpa bunga. Sistem Peutuha Pangkai ini sangat membantu petani.

Untuk menopang perekonomia rakyat, Pemerintah Kolonial Belanda membuka perkebunan dan memberi modal kepada rakyat dan uleebalang yang tidak melawan. Belanda mendirikan Volks Crediet Bank yakni bank pinjaman rakyat.

Munawiyah dalam buku Birokrasi Kolonial di Aceh 1903-1942, yang dierbitkan di Banda Aceh oleh Ar-Raniry Press pada tahun 2007 menjelaskan, di Aceh Besar bank yang didirikan Belanda dinamai de Groot Atjehsche Afdeeling Bank. Rakyat yang menginginkan bantuan kredit untuk membuka kembali usaha atau menambah modal bisa mendapatkan di bank tersebut tanpa dikenakan bunga.

Salah satu nasabah bank ini adalah Moehammad Djoened Yoesoef dari perusahaan NV Indonesia Compani Limited (Indocolim). Pria kelahiran Kutaraja 7 April 1917 ini bergerak di bidang pertanian dan perdagangan. Pada akhir tahun 1925, ia juga mulai menjadi Peutuha Pangkai (penyandang modal) tanpa bunga kepada petani yang membutuhkan.

Moehammad Djoened Yoesoef membuka usaha perkebunan karet di Idi dan membina petani di sana. Masyarakat lebih senang menerima pinjaman tanpa bunga darinya dari pada meminjam sendiri dari bank Belanda. Hal itu dikarenakan masih adanya sentiment anti Belanda.

Bank Belanda di Aceh Besar tersebut berkembang pesat. Sampai tahun 1916 telah didirikan lima bank kecil di Aceh Besar. Sementara di Aceh Utara dan Aceh Timur sejak tahun 1913 juga didirikan masing-masing satu bank. Dalam tahun 1918 jumlah bank yang didirikan Belanda di Aceh meningkat menjadi 29 bank.

Hal yang sama juga dijelaskan Zulfan dalam buku Kiprah Pedagang Pribumi Pada Masa Revolusi Kemerdekaan di Aceh (1945-1949), diterbitkan di Banda Aceh pada tahun 1998 oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Selain itu Belanda juga mendirikan De Javance Bank Kutaradja di Banda Aceh pada 24 Januari 1828. Bank ini awalnya merupakan bank sirkulasi yang bertugas mencetak dan mengedarkan uang. Selain itu juga banyak berhubungan dengan kegiatan perdagangan hasil bumi di berbagai penjuru Hindia Belanda. Pada 11 Maret 1828, De Javance Bank mencetak uang kertas untuk pertama kalinya yaitu senilai f1.120.000 dengan pecahan f1000, f500, f300, f200, f100, f50 dan f25.

De Javance Bank didirikan menjelang keberangkatan Komisaris Besar Hindia Belanda Mr CT Elout ke Hindia Belanda. Tujuan lain pendirian bank ini adalah untuk melakukan penertiban keuangan dan pengaturan sistem pembayaran dalam bentuk lembaga bank. Apalagi saat itu ada desakan dari pengusaha di Batavia agar pemerintah Belanda mendirikan bank untuk kelancaran kepentingan bisnis mereka.

Pendirian Javance Bank baru benar-benar terwujud ketika Raja Willem I menerbitkan surat kuasa kepada Komisaris Jenderal Hindia Belanda pada 9 Desember 1826. Surat tersebut memberikan wewenang kepada pemerintah Hindia Belanda untuk membentuk suatu bank berdasarkan wewenang khusus berjangka waktu (oktroi).

Setelah adanya surat kuasa tersebut, Pemerintah Hindia Belanda mulai mempersiapkan pendirian De Javance Bank. Tanggal 11 Desember 1827 Komisaris Jenderal Hindia Belanda Leonard Pierre Joseph Burggraaf Du Bus de Gigignies mengeluarkan Surat Keputusan No.28 tentang oktroi dan ketentuan-ketentuan mengenai pendirian De Javance Bank. Baru pada 24 Januari 1828 dibuat akte pendirian De Javance Bank melalui Surat Keputusan Komisaris Jenderal Hindia Belanda No.25. Sebagai Presiden De Javance Bank diangkat Mr C de Haan dan CJ Smulders sebagai sekretaris.

Belanda juga membangun Javance Bank di Kutaraja, yakni kota Banda Aceh Sekarang. Bank dengan nama De Javance Bank tersebut dibangun di Jalan Kedah Singel, kemudian berubah menjadi Jalan Nasional, sekarang kita kenal sebagai Jalan Cut Mutia. Gedung Javance Bank itu hingga kini dipakai sebagai kantor Bank Indonesia (BI) Cabang Banda Aceh.[Iskandar Norman]

TERBARU

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here