Thursday, May 19, 2022

Seulawah RI 001 dalam Sejarah Pembentukan Indonesia Airways

Ketika Indonesia diblokade dari segala arah oleh Belanda, pesawat Seulawah RI 001 diterbangkan ke India. Indonesia meminta izin operasi Seulawah RI 001 sebagai maskapai penerbangan sipil di India, tapi ditolak. Izin kemudian diperoleh di Burma (Myanmar) dan Indonesia Airways pun dibentuk.

Sejarah pesawar Seulawah RI 001 hadiah rakyat Aceh untuk Republik Indonesia seakan tenggelam zaman. Tak banyak literasi yang menceritakan tentang burung besi pertama yang dimiliki Indonesia itu.

Namun, tak banyak bukan berarti tak ada. Salah satu sumber yang menceritakan dengan detil tentang pesawat itu adalah buku Modal Perjuangan Kemerdekaan yang ditulis oleh pelaku pejuang kemerdekaan di Aceh, Teuku Alibasjah Talsya.

Buku itu pun sempat lama tak diterbitkan, sampai kemudian Menteri Koperasi Republik Indonesia, Bustanil Arifin yang juga pelaku pejuang kemerdekaan di Aceh, menyediakan dana untuk penerbitan melalui Lembaga Sejarah Aceh (LSA) pada tahun 1990.

Dalam buku itu Talsya mengungkapkan, pada awal Desember 1948, beberapa hari sebelum agresi militer Belanda kedua yang berhasil merebut lapangan udara (bandara) Magowo di Yogjakarta, pesawat Seulawah RI 001 diterbangkan ke Aceh. Dari Aceh kemudian diterbangkan ke Kalkuta, India untuk perawatan (overhaul) dan mengubah beberapa beberapa bagian tertentu yang dapat dikerjakan di India.

Ketika pesawat Seulawan RI 001 masih di Kalkuta, India, lapangan terbang Maguwo di Yogjakarta direbut Belanda. Awalnya pesawat sumbangan rakyat Aceh ini akan ditempatkan di Aceh, karena saat itu Aceh memiliki dua bandara, yakni lapangan terbang Lhoknga dan Blangbintang.

Pertimbangan lainnya, Aceh satu-satunya daerah yang paling aman, karena Belanda tidak bisa masuk ke Aceh, sementara Jawa sudah sepenuhnya dikuasai Belanda, begitu juga dengan beberapa daerah di Sumatera. Tapi, karena Belanda berulang kali melakukan provokasi dari laut dan udara Aceh, pesawat Seulawah RI 001 diterbangkan ke India.

Untuk menutupi biaya pemeliharaan, termasuk biaya parkir dan kebutuhan awak pesawat di India, diusahakanlah izin operasi penerbangan sipil di India. Kemudian, karena izin itu tidak diperoleh, maka Kepala Perwakilan Republik Indonesia di Burma (Myanmar) Marjunani, meminta persetujuan Myanmar untuk membuka charter service di sana.

Pesawat Seulawah RI 001 diterbangkan dari Kalkuta, India ke Rangoon, Burma pada 26 Januari 1949. Di sana dibentuk Indonesia Airways sebagai perusahaan yang mengelola maskapai penerbangan Seulawah RI 001.

Mula-mula Pesawat Seulawah RI 001 disewakan kepada Pemeintah Burma (Myanmar) dan dipakai untuk kebutuhan operasi militer, seperti pengangkutan tentara dan memperkuat pertahanan. Selain itu juga digunakan untuk keperluan transportasi udara para pejabat Myanmar seperti Perdana Menteri Thakin Nu dan para menteri lainnya.

Setelah tiga bulan dioperasikan di Myanmar, penghasilan dari pesawat Seulawah RI 001 kemudian digunakan untuk membeli satu pesawat lagi dengan nomor registrasi RI 007 dan mencharter satu pesawat lagi yang diberi nomor registrasi RI 009.

Selain itu penghasilan dari maskapai Indonesia Airway di Myanmar juga digunakan untuk biaya pendidikan kadet-kadet penerbangan Indonesia yang mengikuti pendidikan di luar negeri.

Pesawat Seulawah RI 001 berulang kali bisa menembus blokade Belanda, kembali ke Aceh untuk membawa senjata dan mesiu, dan dokumen-dokumen perjuangan. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di India, Dr Soedarsono juga menggunakan pesawat Seulawah RI 001 dari India ke Aceh untuk melakukan konsolidasi dan mengambil dana perjuangan. Inilah salah satu sebab Aceh dijuluki sebagai Daerah Modal Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada tanggal 2 Agustus 1950, setelah suasana di tanah air memungkinkan, pesawat Seulawah RI 001 meninggalkan Burma (Myanmar) kembali ke Indonesia dan dioperasikan oleh kesatuan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Sementara pesawat RI 007 bersama para petugas pangkalan dan ground equipment dihibahkan kepada Pemerintah Burma (Myanmar) dalam suatu upacara jam 10.00 pagi tanggal 31 Oktober 1950, sebagai pernyataan terimakasih kepada negara tersebut, karena telah memberi izin operasional Indonesia Airways di sana. Sementara pesawat RI 009 yang disewa dikembalikan kepada pemiliknya semula.[]

TERBARU

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here