Thursday, June 23, 2022

Tekan Impor BBM Pemerintah Perlu Perbanyak SPKLU

Sampai September 2020 Kementerian Perhubungan sudah mengeluarkan 2.278 surat Sertifikasi Uji Tipe (SUT) untuk kenderaan berbasis listrik.

WOINEWS.ID, JAKARTA – Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri mencapai 1,2 juta barel per hari. Sebagaian besar dari konsumsi BBM tersebut masih diimpor. Untuk menekan angka impor BBM, pemerintah perlu memperbanyal pembangunan Stasiun Pengisian Kenderaan Listrik Umum (SPKLU).

Hal itu disampaikan mantan anggota Komisi VII DPR RI yang membidangi urusan energi, lingkungan hidup, riset dan teknologi, H Firmandez, Senin, 28 Desember 2020. Menurut Wakil Ketua DPP Asosiasi Perdagangan Barang, Distributor, Keagenan dan Industri Indonesia (Ardindo) ini, tren penggunaan mobil listrik setiap tahun terus meningkat, untuk itu pemerintah perlu memperbanyal SPKLU untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Menurut H Firmandez, tren penggunaan mobil listrik sebagai mobil masa depan yang ramah lingkungan semakin meningkat, sampai September 2020 Kementerian Perhubungan sudah mengeluarkan 2.278 surat Sertifikasi Uji Tipe (SUT) untuk kenderaan berbasis listrik.

“Ini peluang sekaligus tantangan menuju transisi energi dari penggunaan bahan bakar minyak ke listrik. Apa lagi ada rencana pembangunan pabrik baterai untuk mobil listrik oleh Tesla di Indonesia. Pemerintah harus mengejar ini, agar ketergantungan pada energi fosil bisa dikurangi, dan target ketahanan energi nasional bisa dicapai,” jelasnya.

H Firmandez yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) Himpunan Pengusaha Swadiri Indonesia (HIPSI) ini menambahkan, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) harus punya grand strategy dalam menekan impor BBM, sehingga dapat menghemat devisa.

Selain itu tambah H Firmandez, Indonesia memiliki banyak cadangan nikel untuk bahan baku pembuatan baterai mobil listrik. “Cadangan nikel di Indonesia cukup untuk membangun pabrik baterai mobil listrik. Rencana pembangunan pabrik baterai mobil listrik di Jawa Tengah harus kita dukung, Tapi tentunya pemerintah harus mampu meyakinkan investor, salah satunya Tesla yang katanya sudah tertarik, tapi semoga tidak didahului oleh Thailand,” lanjutnya.

Namun, kata H Firmandez, selain memperbanyak SPKLU, pemerintah juga perlu meningkatkan daya listrik di rumah tangga pengguna Kenderaan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), serta merealisasika pemberian insentif fiskan dan non fiscal bagi mobil maupun motor listrik sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019.

“Pemberian insentif itu akan menurunkan harga jual kendaraan listrik sehingga penjualannya meningkat, dan SPKLU perlu diperbanyak, apa lagi pemerintah telah menargetkan pada tahun 2025 produksi kenderaan listrik mencapai 20 persen dari produksi kenderaan nasional,” pungkasnya.[*]

TERBARU

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here